Service, Education and Research
Dharmais Surgical Oncology
National Cancer Centre
Dharmais Surgical Oncology
All Right Reserved © www.dharmais-
Tabloid Nyata IV Mei 2013
Dr. Walta Gautama SpB(K)Onk
Pentingnya Deteksi Kanker Payudara !!
Kematian presenter Nira Stania akibat kanker payudara, membuktikan bahwa penyakit itu menjadi salah satu penyebab kematian terbesar kaum perempuan. Sayangnya, masih banyak perempuan yang kurang peduli dengan kesehatan payudara.
Akibatnya, mayoritas pasien kanker payudara datang terlambat, karena sudah pada stadium akhir. “Padahal, bila diketahui lebih dini, besar kemungkinan kanker payudara untuk sembuh.” ujar Dr Walta Gautama ST SpB(K)Onk dari RS Kanker Dharmais, Jakarta, kepada Nyata.
Bila kanker payudara diketahui masih pada stadium satu, kesembuhannya mencapai lebih dari 90 persen. Stadium dua kurang dari 80 persen, stadium tiga kurang dari 60 persen, dan stadium empat kurang dari 20 persen.
Penyebab
“Bila stadiumnya sudah lanjut, masalahnya akan berbeda. Baik dalam penanganan, maupun biaya. Orang dengan kanker stadium awal, tidak dikemoterapi. Tapi, begitu sudah stadium tiga, payudara harus diangkat dan kemoterapi.” terangnya.
Dijelaskan Walta, penyebab umum kanker payudara adalah perubahan sel dari normal menjadi abnormal, dan itu berlangsung terus – menerus. Namun secara khusus, kanker payudara disebabkan dua factor :
1. Hormonal
Tujuh puluh persen kanker payudara disebabkan factor hormonal, yaitu adanya esterogen yang diproduksi ovarium.
2. Gaya Hidup
Tiga puluh persen kanker payudara disebabkan factor dari luar, yaitu gaya hidup tak sehat. Seperti tinggal di lingkungan yang banyak radikal bebas, konsumsi makan berlemak, merokok, minum alcohol, dan lainnya.
“Gaya hidup tak sehat inilah yang menyebabkan kanker payudara kini banyak diderita perempuan muda,” tandas Walta.
Ditanya tentang tanda – tanda kanker payudara, Walta mengatakan, 90 persen hanya berupa benjolan di payudara, dan itu tidak terasa sakit. “Karena itulah, banyak perempuan yang mengabaikan. Padahal, justru adanya benjolan tidak sakit itulah, tanda adanya kanker payudara,” tandasnya.
Memang, Sembilan dari 10 benjolan di payudara, tidak ganas. Hanya seper sepuluh saja kemungkinan ganas. “Tapi, bila ada benjolan atau rasa tidak nyaman di payudara, sebaikanya segera memeriksakan diri, agar dapat dipastikan apa yang terjadi,” kata Walta.
“Begitu juga bila ada perubahan ukuran dan bentuk payudara, pembengkakan di ketiak, atau keluarnya cairan yang tidak lazim dari putting,” sambungnya.
Karena itu, mulai usia 20 tahun, Walta menyarankan agar mulai melakukan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI), untuk mendeteksi ada tidaknya kanker payudara.
Lakukan itu seminggu atau sepuluh hari setelah haid, karena pada saat itu kadar kadar hormon estrogen ada di titik terendah. Caranya, lakukan gerakan memutar ke kiri atau kanan, atau naik turun, yang penting batas payudara teraba secara berurutan.
Batas atas payudara adalah dua jari dari bawah tulang selangka, bagian tengah adalah
garis tengah di antara dua payudara, bagian bawah di bawah lingkar payudara-
Bila teraba benjolan yang tidak terasa sakit, sebaiknya diwaspadai. Sebab, semakin benjolan itu terasa nyeri, kemungkinan besar bukan kanker payudara.
“Hubungan kanker payudara dengan nyeri hanya satu persen. Kalau sel kanker sudah tidak mencengkeram otot dan terkena tulang, baru terasa sakit, dan itu berarti sudah stadium lanjut,” tegas Walta.
Selain dengan SADARI, mulai usia 35 tahun sebaiknya dilakukan pemeriksaan mamografi dan USG tiap dua tahun sekali. “Mamografi tak bisa dilakukan pada usia muda, karena jaringan payudaranya masih padat. Padahal kanker atau benjolan abnormal itu juga padat, sehingga sulit dideteksi,” terangnya.
Mulai usia 40-
Resiko Tinggi
Ada beberapa golongan orang yang beresiko tinggi menderita kanker payudara, yaitu :
1. Berusia lanjut. Sebab, makin bertambah usia seseorang, makin mudah sel untuk berubah.
2. Tidak pernah melahirkan.
3. Tidak pernah menyusui.
4. Suka konsumsi lemak, karena lemak adalah cadangan estrogen.
5. Suka minum alcohol. Sebab, alcohol akan jadi cadangan estrogen, sehingga memicu terjadinya kanker.